Postingan

Rengekan Anak Perantauan

Berapapun umurnya, matangnya, dewasanya; tapi percayalah; meninggalkan rumah tidak pernah menjadi hal mudah -Falla Adinda
Sebagai anak yang kuliah di luar kota yang jarak tempuhnya sekitar 12 jam dari rumah menggunakan mobil, kepulangan saat libur selalu menjadi sesuatu yang amat sangat berarti buat gue. Kadang iri sama teman-teman yang rumahnya cuma berjarak beberapa jam dari kosnya sehingga tiap weekend, mereka dengan mudahnya pulang dan bertemu keluarga. 
Nah gue boro-boro weekend, libur seminggu aja masih perlu mikir banget buat pulang atau enggak karena bertahan selama 12 jam duduk di mobil dengan aspal jalanan yang gak sempurna serta meliuk-liuk menuju kampung halaman bukan hal yang sepele buat gue. Iya, mabuk gue benar-benar gak berkelas.
Sekarang gue baru aja ngabisin liburan sebulan gue di rumah, sebulan full bahkan lebih. Liburan selama ini kayanya cuma bisa didapat sama mahasiswa semester awal, makanya gue sangat menikmati keseharian gue disini sampai-sampai gue terbuai dan…

Dasar Kurus!

Gambar
"BACOD U"
Kurang lebih gitu hati gue berkumandang kalo udah denger omongan sebangsa "kok kurus banget sih, Nis?", "aduh Nis, makan yang banyak dong", dan kawan-kawannya. Tapi yang kemudian keluar dari mulut gue cuma hehe gak jelas diiringi cengiran miris dan terkadang dibuntuti kalimat "iya nih".
Dari SD, gue udah termasuk salah satu anak dengan tinggi yang lebih menjulang dibandingkan anak perempuan lainnya, tapi waktu itu berat badan bukan jadi sesuatu yang dipermasalahkan oleh orang-orang. Memasuki SMP sampai SMA, tinggi badan dan berat badan gue makin kelihatan gak seimbang yang kalo dihitung pake IMT bakal dapat hasil yang menunjukkan kalo gue gizi buruk. Kebayang ga sih betapa pedihnya hati gue kalo udah ada pelajaran ngitung Indeks Massa Tubuh, ujung-ujungnya pasti diejekin.
Ketika akan kuliah, beberapa orang mulai mengkhawatirkan gue. Kaya.. gimana nih si Anis ntar kuliah hidup sendiri, pasti makannya gak teratur, pasti mak…

Tentang Saat yang Tidak Lagi Sama

Gambar
Aku pernah merasa hidupku sempurna. Dimana beban terberat hanyalah tugas sekolah yang begitu menyita waktu bermain, dimana masalah serius hanyalah nilai yang tidak memuaskan.

Aku pernah merasa hidupku sempurna. Ketika aku masih bisa berkumpul dengan teman-temanku di satu ruangan. Ketika aku tanpa sengaja seringkali berpas-pasan denganmu dan saling melontarkan senyum atau lambaian ringan.

Ketika itu... kita semua masih menggunakan seragam yang sama, masih menghabiskan setengah hari di tempat dan waktu yang sama.

Yap, kamu satu dari beberapa hal yang menyempurnakan masa putih abu-abuku.

Ini kisah biasa di mata orang lain. Hanya tentang semangat sekolah yang muncul karenanya, berjalan beriringan di koridor, menghabiskan kegiatan sore di ekskul yang sama, atau makan bersama di kantin. Tapi kisah ini terasa begitu menyenangkan untukku.

Tujuh Juli ke Tujuhbelas

Gambar
Uuuuuuwwww postingan telat ini tapi bodo amat mueheheh.

Ramadhan dan pernak-perniknya sudah lewat meskipun iklan-iklan bertemakan Ramadhan masih bertaburan di setiap channel televisi. Suasananya pun masih berasa, didukung oleh emping sama kacang goreng yang bersisa di toples.

Mohon maaf lahir dan batin, teman-teman semua.

Well kalo disini, lebaran maupun natal gak akan pernah lengkap tanpa kehadiran emping sama kacang goreng. Sesungguhnya kehebatan nastar sama ketupat kalah kalo disaingin sama dua makanan ajaib ini.

Jadi kacang gitu ya sedih banget. Dia yang selalu ada, yang selalu setia menemani. Tapi yang dicari-cari, yang dibicarakan selalu saja nastar. Hhh~ gapapa, kacang. Gapapa. Aku juga merasakan apa kamu rasakan, kok. Sedih banget, kan ya. Yang selalu ada,  kalah sama yang berpenampilan lebih menarik. Gapapa. Kita strong :')

-
Hari kedua lebaran, ucapan-ucapan di grup line Kararaway tentang Ramadhan berganti jadi ucapan penuh balon-balon emoji dengan tema Cie Anis Sudah …

Pasukan Macan

Gambar
Postingan kali ini gue mau ngomongin generasi 1998. Kebetulan, gue adalah salah satu generasi 1999 yang terperangkap dalam menaiki tangga-tangga pendidikan bersama mereka. Jadi, ya. Anggap saja gue termasuk ke dalam pasukan macan ini karena gue merasakan apa yang mereka rasakan.
Dan tentu saja tulisan ini juga untuk generasi lain yang sama kaya gue, sama-sama terperangkap bersama generasi 1998 yang sebagian besarnya sudah lulus SMA tahun ini. -

Banyak yang bilang, kelulusan SMA bukanlah akhir dari segalanya. Melainkan awal dari kehidupan yang sesungguhnya, dimana kita harus lebih tangguh lagi begitu melepas status pelajar. Lebih tangguh daripada saat menghadapi tugas-tugas fisika yang menumpuk, lebih tangguh daripada saat menerima nilai yang tidak mencapai KKM. Kesusahan yang dialami di masa SMA tidaklah seberapa.

Lingkungan Baru, Sifat Baru?

Gambar
Kalian pernah gak, kenal dan bersama sama orang selama bertahun-tahun dan pada akhirnya kalian harus berpisah, melangkah ke jalan masing-masing dan ketemu lingkungan baru dan teman-teman baru tentunya. Mungkin sekitar beberapa waktu kemudian, kalian akhirnya ketemu lagi, tapi ternyata teman-teman yang baru dia kenal dan lingkungan baru yang baru diinjaknya lebih sebentar dari kebersamaan kalian itu udah mengubah dia jadi seseorang yang beda di mata kalian sehingga pertemuan kalian selalu terlihat awkward padahal jauh di dalam diri kalian, kalian pengen bersikap senormalnya aja ke dia kaya waktu sebelum dia pergi.

Rasanya.... gimana?

Lingkungan baru itu semenyeramkan itu, ya? Apa harus membentuk sifat baru yang sesuai dengan lingkungan itu biar gampang beradaptasi? Gimana kalo kita akhirnya jadi pribadi yang benar-benar berbeda setelah itu?

Sesungguhnya Ini Tidak Penting

Gambar
Kalian pernah gak ada di titik dimana kalian ngerasa kaya gak semangat ngelakuin segala hal? Macam segalah sesuatunya itu berasa hambar, berasa abu-abu buat dilakuin. Padahal biasanya kalian selalu semangat ngelakuin semuanya, apapun itu.
Tapi kalo didiemin aja, tau-tau malah nangis. Iya, buat para cewek yang kadang-kadang sok tangguh di depan orang-orang.
Gue sekarang sedang berdiri di titik itu karena ada sesuatu yang hilang. Dan dengan kurang ajarnya, sesuatu itu ngebawa pergi semangat gue. Kepergian keduanya yang bikin bahagia gue lumpuh.
Mellow banget elah. Gue kira gue gak akan pernah nulis beginian disini, tapi ntahlah, gue bingung mau cerita kemana lagi. Gue bukan orang yang doyan nulis diary, indra pendengaran teman-teman gue terlalu berharga buat ngedenger bacotan basi ini, dan orang yang biasanya mau-mau aja denger semua keluh kesah gue bahkan yang gak penting sedikitpun.. lagi berkelana buat dengerin keluh kesah orang lain yang tampaknya lebih penting dari gue.